Pada Intinya :
1. Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% (yoy), sedikit lebih tinggi dibanding Desember 2025 yang sebesar 2,92% (yoy). Kenaikan ini terutama dipengaruhi faktor basis rendah tahun sebelumnya akibat kebijakan diskon listrik
2. Kombinasi manufaktur yang ekspansif, konsumsi yang menguat, surplus perdagangan, dan inflasi terkendali menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia memasuki 2026 dengan fondasi yang semakin kuat
Memasuki awal tahun 2026, perekonomian Indonesia menunjukkan berbagai sinyal positif. Penguatan sektor manufaktur, surplus neraca perdagangan yang berlanjut, serta inflasi yang tetap dalam kendali menjadi indikator bahwa fondasi ekonomi nasional semakin solid di tengah tantangan global.
Data terbaru menunjukkan aktivitas produksi, konsumsi, hingga perdagangan internasional bergerak ke arah yang lebih ekspansif, memperkuat optimisme pelaku usaha terhadap prospek pertumbuhan ekonomi tahun ini.
PMI Manufaktur Menguat, Optimisme Industri Meningkat
Kinerja sektor manufaktur Indonesia terus menunjukkan perbaikan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur pada Januari 2026 tercatat sebesar 52,6, meningkat dari 51,2 pada bulan sebelumnya. Angka ini menegaskan posisi Indonesia tetap berada di zona ekspansi (di atas 50).
Penguatan tersebut terutama didorong oleh:
– Meningkatnya permintaan domestik
– Kenaikan output produksi
– Stabilnya fundamental industri nasional
Meski masih menghadapi tantangan berupa gangguan rantai pasok global dan pelemahan pesanan ekspor, optimisme pelaku usaha justru meningkat ke level tertinggi dalam sepuluh bulan terakhir.
Secara global dan regional, perbaikan juga terlihat pada mitra dagang utama. PMI India berada di 56,8, Amerika Serikat di 51,9, serta agregat ASEAN di 52,8. Hal ini menjadi sinyal perbaikan permintaan eksternal yang turut mendukung kinerja manufaktur Indonesia.
Konsumsi Domestik dan Aktivitas Ekonomi Semakin Solid
Selain manufaktur, indikator ekonomi domestik lainnya juga menunjukkan tren positif pada akhir 2025.
Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 4,4% (yoy), didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat. Aktivitas konsumsi juga tercermin dari:
– Penjualan sepeda motor naik 14,5% (yoy)
– Penjualan mobil tumbuh 17,9% (yoy)
– Penjualan listrik meningkat 4,8%
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap optimis di level 123,5
Data tersebut mengindikasikan daya beli masyarakat masih terjaga dan aktivitas ekonomi terus bergerak stabil memasuki 2026.
Neraca Perdagangan Surplus, Ekspor Industri Pengolahan Melonjak
Dari sisi eksternal, kinerja perdagangan Indonesia tetap kuat. Pada Desember 2025, neraca perdagangan mencatat surplus USD2,51 miliar, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Beberapa poin penting:
– Ekspor tumbuh 11,64% (yoy)
– Ekspor nonmigas naik 13,72% (yoy)
– Ekspor industri pengolahan melonjak 19,26%
– Surplus kumulatif 2025 mencapai USD41,05 miliar
Impor juga meningkat, terutama pada barang modal yang naik 34,66%, mencerminkan ekspansi investasi dan produksi domestik.
Tren surplus perdagangan yang berlanjut sejak Mei 2020 menunjukkan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia tetap terjaga.
Baca Juga : Airlangga Tegaskan Daya Tarik Investasi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Krisis Global
Inflasi Terkendali dan Diperkirakan Normalisasi
Inflasi Januari 2026 tercatat 3,55% (yoy), sedikit lebih tinggi dibanding Desember 2025 yang sebesar 2,92% (yoy). Kenaikan ini terutama dipengaruhi faktor basis rendah tahun sebelumnya akibat kebijakan diskon listrik.
Namun secara bulanan terjadi deflasi -0,15%, dipicu penurunan harga sejumlah komoditas pangan seperti cabai, bawang, daging ayam, dan telur.
Inflasi inti berada di 2,45% (yoy), sementara tekanan inflasi diperkirakan bersifat sementara dan akan mengalami normalisasi dalam beberapa bulan ke depan.
Pemerintah menegaskan komitmennya menjaga inflasi pada kisaran target, memperkuat pasokan pangan, serta menjaga daya beli melalui berbagai stimulus.
Momentum Ekonomi Positif, Bisnis Perlu Sistem Keuangan yang Lebih Tertata
Kombinasi manufaktur yang ekspansif, konsumsi yang menguat, surplus perdagangan, dan inflasi terkendali menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia memasuki 2026 dengan fondasi yang semakin kuat.
Bagi pelaku usaha, momentum ini berarti peluang ekspansi semakin terbuka. Namun pertumbuhan transaksi dan peningkatan volume bisnis juga menuntut sistem pengelolaan keuangan yang lebih rapi dan terintegrasi.
Di tengah aktivitas produksi dan perdagangan yang semakin dinamis, pencatatan manual berisiko menimbulkan kesalahan dan keterlambatan laporan.
Karena itu, penggunaan software akuntansi modern seperti Accurate Online menjadi semakin relevan.
Mengapa Accurate Online Penting di Tengah Pertumbuhan Ekonomi?
1. Pencatatan Keuangan Otomatis
Accurate Online mencatat transaksi penjualan, pembelian, hingga jurnal akuntansi secara otomatis dan terintegrasi, sehingga meminimalkan human error.
2. Laporan Keuangan Real-Time
Saat volume usaha meningkat, laporan laba rugi, neraca, dan arus kas dapat diakses kapan saja untuk mendukung pengambilan keputusan cepat.
3. Manajemen Stok Terintegrasi
Cocok untuk sektor manufaktur dan perdagangan yang sedang ekspansif, karena membantu memantau persediaan secara akurat.
4. Pengelolaan Pajak Lebih Sistematis
Seiring pertumbuhan usaha, administrasi pajak menjadi lebih kompleks. Accurate Online membantu pencatatan pajak lebih tertib dan terstruktur.
5. Berbasis Cloud dan Fleksibel
Dapat diakses dari mana saja, mendukung mobilitas bisnis yang semakin dinamis di era digital.




