Pada Intinya :
1. Anne menegaskan bahwa dari sisi kapasitas, industri tekstil Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus menembus pasar global. Namun, masih terdapat sejumlah tantangan struktural yang perlu segera dibenahi agar industri nasional lebih kompetitif
2. Di tengah dinamika regulasi impor bahan baku dan tuntutan standar global, pengusaha tekstil membutuhkan sistem yang mampu membantu pencatatan transaksi impor, pengelolaan biaya produksi, hingga laporan keuangan secara akurat dan real-time Accurate Online hadir sebagai software akuntansi berbasis cloud yang membantu pengusaha
Purbaya Yudhi Sadewa dinilai membuka ruang dialog dan koordinasi lintas kementerian agar kebutuhan industri tidak terhambat oleh regulasi yang tumpang tindih
Hal ini disampaikan Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, usai audiensi dengan Menteri Keuangan dan jajaran Kementerian Keuangan di Gedung Juanda, Jakarta, Selasa (2/12/2025).
Industri Tekstil Nasional Punya Potensi Besar
Anne menegaskan bahwa dari sisi kapasitas, industri tekstil Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus menembus pasar global. Namun, masih terdapat sejumlah tantangan struktural yang perlu segera dibenahi agar industri nasional lebih kompetitif.
“Kalau regulasinya disederhanakan, daya saing akan naik. Pemerintah sudah menunjukkan kemauan untuk mendukung, tinggal penyelarasan kebijakannya,” ujar Anne.
Menurutnya, penyederhanaan regulasi menjadi kunci penting untuk:
– meningkatkan daya saing industri tekstil nasional
– memperlancar rantai pasok bahan baku
– menekan maraknya produk pakaian bekas impor (thrifting) di pasar domestik
– Impor Bahan Baku Masih Dibutuhkan
Anne menjelaskan bahwa impor bahan baku tekstil masih diperlukan, terutama untuk jenis bahan tertentu yang:
– belum tersedia di dalam negeri
– belum memenuhi standar mutu global
– membutuhkan teknologi dan proses produksi khusus
Keterbatasan product development di beberapa pabrik lokal membuat sejumlah merek internasional masih mengandalkan bahan impor demi memenuhi spesifikasi teknis, kualitas, dan standar keberlanjutan.
“Product development kita masih kurang. Itu sebabnya beberapa brand internasional lebih memilih bahan impor,” jelasnya.
Tantangan ESG Jadi PR Industri Tekstil
Selain kualitas, tantangan besar lain yang dihadapi industri tekstil nasional adalah pemenuhan standar Environmental, Social, and Governance (ESG). Standar ini mencakup aspek lingkungan, sosial, hingga penggunaan energi ramah lingkungan.
Menurut Anne, tidak semua pabrik lokal mampu memenuhi seluruh persyaratan tersebut, mulai dari izin lingkungan, standar upah minimum, hingga penggunaan energi non-pool.
“Kalau standar lingkungan, izin, upah minimum, sampai energi non-pool terpenuhi, produk lokal sebenarnya bisa diterima brand internasional,” paparnya.
Baca Juga : Hitung Pajak Penghasilan 2026 Pakai Accurate Online, Training Resminya di FAC Institute
Produksi Lokal Ada, Tapi Belum Merata
Dalam praktiknya, bahan kain untuk memenuhi pesanan merek global masih banyak yang diimpor. Hal ini disebabkan sebagian pabrik lokal belum mampu memproduksi kain dengan kualitas konsisten dan volume besar, khususnya untuk segmen performance fabric dan sustainable textile.
“Kita bisa kompetitif, tapi produksinya belum cukup banyak dan belum cukup cepat,” tegas Anne.
Namun demikian, untuk kebutuhan tertentu seperti busana muslim dan kerudung, sebagian besar sudah dapat diproduksi di dalam negeri. Impor masih dibutuhkan untuk kain dengan spesifikasi khusus, misalnya teknologi finishing tertentu atau karakter handfeel yang belum bisa dipenuhi semua pabrik lokal.
Daya Saing Naik, Thrifting Bisa Ditekan
Anne menilai bahwa penguatan industri lokal dan kelancaran pasokan bahan baku akan membantu menekan ketergantungan masyarakat pada produk pakaian bekas impor. Meski demikian, penurunan thrifting juga membutuhkan kepastian regulasi dan penegakan aturan yang konsisten, serta perubahan perilaku pasar.
“Kalau daya saing naik dan supply lokal kuat, thrifting akan berkurang. Tapi tetap butuh kepastian regulasi,” tutupnya.
Kelola Impor & Keuangan Bisnis Lebih Tertib dengan Accurate Online
Di tengah dinamika regulasi impor bahan baku dan tuntutan standar global, pengusaha tekstil membutuhkan sistem yang mampu membantu pencatatan transaksi impor, pengelolaan biaya produksi, hingga laporan keuangan secara akurat dan real-time Accurate Online hadir sebagai software akuntansi berbasis cloud yang membantu pengusaha:
– mencatat transaksi pembelian dan impor bahan baku dengan rapi
– memantau biaya produksi dan margin usaha secara akurat
– menyusun laporan keuangan yang siap untuk kebutuhan audit dan evaluasi bisnis
Dengan administrasi yang tertib dan sistem yang terintegrasi, pengusaha dapat lebih fokus meningkatkan daya saing usaha di tengah tantangan industri tekstil yang terus berkembang
Langganan Accurate Online melalui www.penjualanonline.id dengan tim expert berpengalaman respon cepat dan ramah dalam pelayanan
KLIK DISINI untuk Langganan Accurate




